Selasa, 31 Desember 2013

Mursi Bantu Korban Tsunami Aceh dengan Dana, SBY ‘Bantu’ Mesir dengan Twitter


Tampaknya saya tidak perlu kembali mengulang memori bahwa Muhammad Mursi pernah datang ke Aceh pasca gelombang tsunami menerjang bumi Serambi Mekkah,  Desember 2004 Silam. Foto Mursi bersama para tokoh Aceh beredar di mana-mana. Senyumnya menyiratkan ada kepeduliaan tinggi dan ketulusan hati atas penderitaan muslim meski Aceh jauh terletak dari negeri Nabi Musa itu.
dr mursi 300x224 Morsi, Presiden Mesir Itu Ternyata Mengunjungi Aceh Ketika TsunamiKenangan Mursi berdiri di belakang bangunan Aceh yang porak poranda menguatkan hati kita bahwa bangsa Aceh –bahkan Indonesia- tidaklah sendiri. Muhammad Mursi datang ke Aceh dalam rangka kunjungan kemanusiaanya pada proses recovery Aceh pasca tsunami. Bekerja sama dengan relawan Indonesia, beliau langsung menuju lokasi yang porak poranda diterjang Tsunami. Nampak pula sejumlah tokoh mendampingi seperti anggota DPR.
Sungguh kepedulian Mursi terhadap saudara semuslimnya patut menjadi acungan jempol. Saya tidak tahu harus bicara apa atas rasa sayangnya kepada bangsa Indonesia. Saya tidak bisa bicara karena saya sungguh malu memiliki Presiden di Indonesia yang hanya bisa diam seribu bahasa. Bukankah SBY sudah keluarkan ‘kata sakti’ berupa keprihatinan terhadap situasi Mesir? Tidak, bukan. Itu bukanlah aksi nyata, karena ratusan juta rakyat muslim Indonesia bisa melakukan lebih daripada itu. Mereka berpanas-panasan di jalan dengan fasilitas seadanya, berdiri sepanjang jalan berdoa dan mengirim pesan ke Kairo: wahai umat Islam Mesir, kalian tidak sendiri.
Jangankan berusaha mengembalikkan Mursi ke kursi kepresidenannya, bersuara keras mengecam tindakan Jenderal As-Sisi saja tidak. Apa yang bisa kita harapkan dengan pemimpin seperti ini? Yang hanya ‘kreatif’ berkicau twitter tanpa berani langsung berkata lantang di depan muka Adly Mansour, Elbaradei , Obama, dan para gerombolan liberal dan sekuler yang telah bersekongkol mengkudeta sang pemimpin. Bahkan telah membunuh ribuan nyawa umat Islam.
Kini,6000 nyawa demonstran Mursi sudah melayang. Anak-anak dan balita menjadi korban. Tidak ada kata yang pantas kita keluarkan selain nurani telah mati dan terkubur di bumi piramida. Saya hanya bisa meminta maaf kepada Mursi. Maaf Pak Presiden, kami belum bisa membalas budi baikmu (saya masih menganggap Mursi sebagai Presiden). Tapi, kami jutaan Muslim Indonesia bersamamu, meski presiden kami hanya bisa berkicau lewat barisan twitter. Doakan, agar kami bisa membalas budi baikmu.

Fajar Nurrokhmat
Aktivis Sosial
http://www.islampos.com/mursi-bantu-korban-tsunami-aceh-dengan-dana-sby-bantu-mesir-dengan-twitter-74031/

Profesor Jepang: “Islam Membuat Kehidupan Menjadi Lebih Baik”


IMG 6673 Profesor Jepang: Islam Membuat Kehidupan Menjadi Lebih Baik
”SAYA percaya, Islam adalah sistem yang dapat membuat kehidupan manusia menjadi lebih baik,” kata Prof Hisanori Kato saat berdialog dengan pengelola dan santri Rumah Tahfidz Al Azmy Bogor, Sabtu (28/12) sore.
Hisanori Kato (49), peneliti dari Jepang yang pernah lama bermukim di Indonesia sejak 1991. Mulanya ia pengajar Bahasa Jepang di Jakarta International School pada tahun 1991-1994. Alumnus Universitas Hosei Tokyo dan The School of Studies in Religion, University of Sydney, Australia, ini lalu meneliti tentang peran agama Islam dalam pembentukan masyarakat demokratis di Indonesia. Ia pun sempat menjadi dosen tamu dan guru besar di Universitas Nasional Jakarta.
Pria sederhana yang berasal dari Kamakura, Jepang, ini sekarang pengajar dan peneliti di Osaka Butsuryo College di Osaka, Jepang. Ia juga anggota dewan kehormatan Centre of Asia Studies yang bermarkas di Indonesia.
Kato-san yang merupakan profesor termuda di Osaka, menuangkan pengalaman dan kesannya tentang Indonesia dalam buku Kangen Indonesia: Indonesia di Mata Orang Jepang (2013). Buku yang diterbitkan Gramedia ini sudah cetak ulang dua kali.
Kato datang ke Rumah Tahfdiz Al Azmy di Kampung Pondokmiri, Desa Rawakalong, Kec Gunungsindur, Bogor, didampingi Wakil Direktur PPPA Daarul Qur’an Sunaryo Adhiatmoko dan Manager Area PPPA Daarul Qur’an Jawa Tengah, Wahyu Efendy.
Menurut Kato, ia tertarik untuk meneliti tentang Rumah Tahfidz Daarul Qur’an setelah berdialog dengan Ustadz Yusuf Mansur. ”Saya sampai pada tahap tertarik dengan agama Islam, meskipun belum memeluk Islam,” kata Kato-san yang mengaku beragama Buddha.
Mendapat penjelasan tentang kegiatan Rumah Tahfidz dari pembimbing Al Azmy, Ustadz Muslihan Bashri, Hisanori Kato merasa kagum. Misalnya para santri yang memulai kegiatan harian sejak pukul 04.00 WIB. ‘’Di Jepang, mana bisa anak-anak bangun subuh,’’ katanya membandingkan. Generasi belia Jepang masa kini, lanjutnya, sudah asyik dengan game digital ketimbang membaca.
Hisanori Kato juga merasa respek terhadap keramahan kaum muslimin Indonesia, termasuk para tokoh Islam yang selama ini dicitrakan sebagai ‘’radikal’’. Peneliti yang bersahabat dengan Prof Amien Rais, Ismail Yusanto (Jubir HTI), Habib Riziq Shihab (FPI), Abu Bakar Baasyir (JAT), Yusuf Mansur, dan lain-lain ini membandingkan dengan sikap orang Jepang yang sulit bergaul dengan bangsa lain.
‘’Arigato, saya yang non-Islam diterima dengan baik di sini,’’ ujarnya sambil sedikit membungkukkan badan.
Dalam dialog dengan para santri Al Azmy, Hisanori Kato menanyakan motivasi mereka mengikuti program Rumah Tahfidz dan menghafal Qur’an. ‘’Kami ingin menghafal Al Qur’an agar sukses di dunia dan akhirat,’’ kata Adelia dan Ghufron, yang dibenarkan para santri lainnya.
Jawaban itu terkonfirmasi ketika Kato menanyai cita-cita masing-masing anak. Penasehat Pemkot Sakai, Osaka, tak menyangka ternyata selain menjadi penghafal Qur’an, anak-anak juga ada yang ingin menjadi pengusaha restoran, pebisnis kuliner, atlit badminton, hingga jadi pelukis. ‘’Bagus, bagus,’’ komentar Kato sambil manggut-manggut.
Ia lalu bertanya, apakah kegiatan Rumah Tahfidz tidak mengganggu belajar di sekolah umum. ‘’Ya, sedikit ngantuk kalau pagi,’’ ungkap Syauqi sambil tersenyum. Yang Kato heran, ternyata prestasi akademik anak-anak bukannya menurun tapi malah meningkat setelah mengikuti pogram tahfidz.
Menjawab keheranan tamunya, pengelola Al Azmy menjelaskan bahwa di dalam Al-Qur’an ada firman Allah SWT yang menyatakan: “Wattaqullah, wayu’allimu kumullah. Bertakwalah kamu kepada Allah, niscaya Allah akan mengajarimu (QS Al-Baqarah: 282).
‘’Mr Kato, dalam keyakinan kami, jika kami mengejar akhirat (surga), maka kesuksesan dunia akan mengikuti. Tapi kalau hanya mengejar dunia, ya hanya akan mendapat kesuksesan duniawi,’’ jelas Sunaryo.
Di penghujung dialog, pengelola dan santri Al Azmy berdo’a agar Hisanori Kato mendapat pencerahan iman.
[nurbowo/islampos]
http://www.islampos.com/profesor-jepang-islam-membuat-kehidupan-menjadi-lebih-baik-91883/

Akulah Pungguk Pertama yang Sampai di Bulan

rosadi alibasa 490x136 Akulah Pungguk Pertama yang Sampai di Bulan
DALAM Komedi Situasi Bajaj Bajuri, Yusup bin Sanusi alias Ucup bin Uci menginginkan wanita cantik dan kaya. Sementara dia miskin dan kurang menarik. Orang-orang mengatainya bagaikan pungguk merindukan bulan. Dan dengan tegas dia bilang Akulah pungguk pertama yang akan mencapai bulan. Apa maksud Ucup?
Meskipun dalam cerita tersebut Ucup memang selalu apes, tapi statement yang dlontarkannya begitu meyakinkan dari sejuta kemungkinan yang ada. Dan ketika dia mengucapkan statement tersebut dia tidak perduli lagi dengan kata orang. Biarkan anjing menggonggong kapilah tetap berlalu.
Untuk meraih sukses kita tidak usah malu-malu mengatakan apa yang kita inginkan karena itu akan menjadi motivasi tersendiri buat kita. Abaikan cacian dan makian yang mungkin akan menghambat kita untuk bergerak. Seperti kisah sekumpulan katak yang terjebak di kubangan air yang dalam dari permukaan tanah. Semua sama-sama melompat dan tidak berhasil keluar darinya. Akhirnya mereka memutuskan untuk tidak melompat lagi. Tapi ternyata ada seekor katak yang terus melompat mencoba keluar dari sumur. Teman-teman nya pada mengolok-olok.
“Sudah berhentilah melompat kamu tidak akan bisa keluar”
“Sudah ini memang takdir kita ada disini jadi terima dan nikmati saja takdir kita”
“Kamu tidak mungkin bisa keluar. Dinding kubangan air ini terlalu dalam untuk bisa kita lewati”
“Kamu hanya akan menghabiskan tenaga saja dengan terus melompat, mendingan berenang bersama kita dan kita nikmati keadaan di dalam sini”
Si katak tidak perduli dengan semua omongan semua temannya. Dia terus melompat dan melompat, sementara teman-temannya dengan santai dan riang berenang kesana kemari di dalamnya. Menunggu saat kematian tiba. Tiba-tiba lompatan si katak kali ini lebih kuat dan mengenai dinding yang bisa dilompati berikutnya. Akhirnya si katak keluar dari kubganan dan melanjutkan kehidupannya kembali di alam bebas. Dia melompat menjauh dan selamat. Sementara teman-temannya masih di dalamnya. Beberapa hari kemudian sekelompok katak di dalam kubganan bernasib tragis, satu persatu dari mereka mati.
Tidak sedikit dari kita yang tidak menyadari bahwa dalam kesenangan kita, seperti sang katak yang menikmati indahnya kubangan air akan bernasib tragis. Tidak banyak bermanfaat untuk orang.
Sementara orang yang selalu ingin keluar dalam keterpurukan dan bermanfaat untuk orang lain, dia akan terus berusaha meski mendapat perlakuan yang tidak baik. Tapi sebenarnya dia akan banyak bermanfaat untuk orang lain.
Kalau kita memang sekelompok pungguk yang menginginkan meraih bulan. Jadilah pungguk yang pertama yang dapat mencapai bulan.
http://www.islampos.com/akulah-pungguk-pertama-yang-sampai-di-bulan-92122/

Rabu, 11 Desember 2013

Ustaz Muhammad Arifin Ilham Surati Kapolri Soal Jilbab Polwan

Ustaz Muhammad Arifin Ilham saat memberikan tausiyah di Masjid Istiqlal, Jakarta Pusat.
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Pimpinan Majelis Zikir Az-Zikra Ustaz Muhammad Arifin Ilham menyurati Kapolri Jenderal Sutarman soal jilbab Polisi Wanita (Polwan).

Dalam surat terbuka untuk Bapak Kapolri yang dipanggilnya sebagai ayahanda tercinta Jendral Sutarman tersebut, Ustaz Muhammad Arifin Ilham mengawali isi ruatnya dengan iringan doa assalaamu alaikum wa rahmatullaahi wa barkaatuhu.

''Semoga ayahanda selalu dalam hidayah dan berkah Allah bersama keluarga dan keluarga besar Polri aamiin,'' tulis Ustaz Muhammad Arifin Ilham.

Sejak ayahanda membolehkan muslimat polisi berjilbab, tulis Ustaz Muhammad Arifin Ilham lebih lanjut, suka cita, ucapan Alhamdulillah, sujud syukur, pujian dan doa untuk ayahanda dipanjatkan. ''Lalu kenapa dicabut dan ditunda lagi ayahanda?'' Tanya Ustaz Muhammad Arifin Ilham.

''Ayah, hidup kita tidak lama di dunia sebentar ini. Jabatan yang Allah SWT amanahkan untuk ayah akan dipertanggungjawabkan di akhirat kelak, keputusan ayah membolehkan jilbab adalah keputusan sangat bijak dan tepat,'' tulisnya.

''Dan berita gembira untuk ayahanda, bukan hanya sebagai Pelopor Jilbab yang akan dikenang sejarah walaupun ayah sudah wafat tetapi bernilai amal jariyah yang mengalir terus menerus sebanyak muslimat polisi mengenakannya.''

Ustaz Arifin kemudian mengutif firman Allah SWT dalam surat An-Nisa ayat 85 yang artinya, "Barang siapa memberi keputusan atau kebiasaan yang baik, lalu banyak yang mengikutinya maka sebanyak itu ganjaran mengalir Allah berikan kepadanya, tetapi sebaliknya barang siapa membuat keputusan atau kebiasaan buruk, lalu banyak yang mengikutinya maka sebanyak itu dosa yang ditimpakan kepadanya.''

Ustaz Arifin melanjutkan suratnya, ''Ayah, kalau memang belum dibuat aturan hukum bakunya, jangan diperintahkan untuk menanggalkan jilbab bagi muslimat polisi yang sudah berjilbab, apalagi sampai memecat mereka, terlalu besar resikonya di akhirat kelak.'' 

''Sayangilah muslimat Polri, ayah. Mereka juga putri-putri ayah. Buatlah sejarah yang indah mengesankan, ayah. Hidup ini sebentar ayah. Ayah, jangan ragu-ragu. Kami sangat mendukung dan mendoakan ayah agar ayah lulus menjaga amanah Allah SWT.''

Menurut Ustaz Arifin Ilham, negeri tercinta ini membutuhkan pemimpin yang sangat takut kepada Allah SWT dan sangat sayang pada rakyatnya.

''Dari nanda Muhammad Arifin Ilham, seorang anak bangsa yang mencintai ayahanda Sutarman. Allahumma ya Allah, berilah hidayahMu untuk para pemimpin negeri yang kami cintai ini...aamiin,'' tulis Ustaz Muhammad Arifin Ilham mengakhiri surat terbukanya buat Kapolri yang disebutnya sebagai ayahanda.

http://www.republika.co.id/berita/nasional/umum/13/12/10/mxldqc-ustaz-muhammad-arifin-ilham-surati-kapolri-soal-jilbab-polwan

Sabtu, 07 Desember 2013

Kisah Empat Lilin

Ada empat lilin menyala,
Sedikit demi sedikit habis meleleh.
Suasana begitu sunyi hingga terdengarlan suara mereka.

Lilin pertama berkata:
“Aku adalah damai
Namun manusia tak mampu menjagaku
Maka lebih baik aku mematikan diriku saja!”
Demikian sedikit demi sedikit lilin padam.

Lilin kedua berkata:
“Aku adalah Iman
Sayang aku tak berguna lagi
Manusia tak mau mengenaliku lagi
Untuk itulah tak ada gunanya aku mnyala.”
Begitu selesai bicara, tiupan angin memadamkannya.

Dengan sedih lilin ketiga bicara:
“Aku adalah Cinta
Tak mampu lagi aku tetap menyala
Manusia tak lagi memandang dan menganggapku berguna.
Mereka saling membenci, bahkan membenci mereka yang mencintainya.”
Tanpa menunggu waktu lama, maka matilah lilin ketiga.

Tanpa terduga, seorang anak masuk kedalam kamar dan melihat ketiga lilin telah padam.
Karena tekut akan kegelapan, ia berkata:
“Ekh apa yang terjadi?!! kalian harus tetap menyala, aku takut akan kegelapan”
Lalu ia menangis tersedu-sedu.

Lalu dengan haru lilin keempat berkata:
“Jangan takut…Jangan menangis…
Selama aku masih ada dan menyala, kita tetap dapat selalu menyalakan ketiga lilin lainnya.
Akulah HARAPAN…”

Dengan mata bersinar, sang anak mengmbil LILIN HARAPAN, lalu menyalakan kembali ketiga lilin lainnya. Apalah yang tidak pernah mati hanyalah HARAPAN yang ada dalam hati kita…
Sumber: http://kisahkita-tiarmaulidia.blogspot.com/
http://karyaislami-fatih.blogspot.com/2011/03/kisah-empat-lilin.html
Hikmah di sebalik kisah ini:
Perkara yang tidak pernah padam adalah HARAPAN yang ada pada diri setiap insan. Jadilah seperti lilin keempat. Letakkanlah HARAPANmu kepada ALLAH yang Maha Esa, nescaya kamu akan menemui kebenaran di setiap langkah perjalanan hidup yang penuh berliku ini...

Trailer by Youtube:

 

Sabtu, 30 November 2013

Film 99 Cahaya di Langit Eropa Sarat Syiar Islam

Hanum Salsabiela Rais dan bukunya 99 Cahaya di Langit Eropa
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- '99 Cahaya di Langit Eropa' merupakan sebuah film yang diangkat dari sebuah novel karya Hanum Salsabila Rais dengan judul yang sama.
Film yang sarat syiar islam ini tak hanya mengadopsi cerita yang ada di dalam novel tersebut, bahkan ada cerita yang tak tertulis dihadirkan ke dalam film.

"Kita adopsi 120% dari novelnya," cerita Guntur Sorharjanto kepada wartawan seusai screaning di Blitz Megaplex Grand Indonesia, Jumat (29/11) di Jakarta.

Mengapa 120%, menurutnya ada banyak adegan yang tak tertulis di novel yang turut di masukan ke dalam cerita film.
Ia mencotohkan salah satunya adalah adegan dimana Rangga (Abimana Aryasatya)  mengajarkan puasa kepada Stefan (Nino Fernandes).
Dalam menggarap cerita-cerita yang tak tertulis di novel, Guntur menggali langsung kepada penulisnya guna mengerti lebih jauh mengenai si penulis dan orang-orang yang ada di dalam novel.

Mengingat novel ini merupakan sebuah true story yang dialami penulis selama perjalanannya di Eropa.Film '99 Cahaya di Langit Eropa akan tayang di Bioskop pada 5 Desember mendatang.
Beberapa artis kenamaan turut ambil di film ini seperti Acha Septriansyah, Abimana Aryasatya, Raline Shah, Nino Fernadez, Alex Abad, Mariss Nasution dan Dewi Sandra.
Reporter : Fian Firatmaja   
Redaktur : Agung Sasongko

http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/islam-mancanegara/13/11/30/mx1b34-film-99-cahaya-di-langit-eropa-sarat-syiar-islam

Trailer Filmnya:

Mengapa Yang Dihancurkan Yahudi Pertama Kali Adalah Wanita


Seorang anak yang rusak masih bisa menjadi baik asal ia pernah mendapatkan pengasuhan seorang ibu yang baik. Sebaliknya, seorang ibu yang rusak akhlaknya, hanya akan melahirkan generasi yang rusak pula akhlaknya. Itulah mengapa yang dihancurkan pertama kali oleh Yahudi adalah wanita.”
 
UCAPAN diatas dilontarkan oleh Muhammad Quthb, dalam sebuah ceramahnya puluhan tahun silam. Muhammad Quthb adalah ulama Mesir yang concern terhadap pendidikan Islam sekaligus pemikir ulung abad 20. Ia tidak hanya dikenal sebagai aktivis yang gencar melakukan perlawanan terhadap rezim Imperialisme Mesir, namun juga cendekiawan yang terkenal luas ilmunya.
Beberapa bukunya pun telah beredar di Timur Tengah dan diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa yang diantaranya adalah Shubuhāt Hawla al-Islām (literally “Misconceptions about Islam”)Hal nahnu Muslimūn (Are we Muslims?). Al-Insān bayna al-māddīyah wa-al-Islām. (Man between the Material World and Islam). Islam and the Crisis of the Modern World dan masih banyak lagi. Maka tak heran, lepas dari penjara ia pun mendapatkan gelar Profesor Kajian Islam di Arab Saudi.

Muhammad Quthb menekankan bagaimana pentingnya peran yang dimiliki seorang ibu dalam Islam. Ibu tidak saja adalah pihak yang dekat secara emosional kepada seorang anak, tapi ia juga memiliki pengaruh besar terhadap masa depan akhlak dari generasi yang dilahirkannya. Menurut Muhammad Quthb anak yang pada kemudian hari mendapatkan ujian berupa kehancuran moral akan bisa diatasi, asal sang anak pernah mendapatkan pengasuhan ibu yang solehah. Pendidikan Islami yang terinternalisasi dengan baik, akan membuat sang anak lekas bangkit dari keterpurukannya mengingat petuah-petuah rabbani yang pernah terekam dalam memorinya.

Sebaliknya, ayah yang memiliki istri yang sudah rusak dari awalnya, maka ia pun hanya akan melahirkan sebuah keturunan yang memiliki kepribadian persis dengan wanita yang dipinangnya. Sifat alami anak yang banyak mengimitasi perilaku sang ibu akan membuka peluang transferisasi sifat alami ibu kepada anaknya. Maka kerusakan anak akan amat tergantung dari kerusakan ibu yang mendidiknya. Oleh karena itu, dalam bukunya Ma’rakah At Taqaaliid, Muhammad Quthb mengemukakan alasan mengapa Islam mengatur konsep pendidikan yang terkait dengan arti kehadiran ibu dalam keluarga. Ia menulis:

“Dalam anggapan Islam, wanita bukanlah sekadar sarana untuk melahirkan, mengasuh, dan menyusui. Kalau hanya sekedar begitu, Islam tidak perlu bersusah payah mendidik, mengajar, menguatkan iman, dan menyediakan jaminan hidup, jaminan hukum dan segala soal psikologis untuk menguatkan keberadaannya… Kami katakan mengapa ‘mendidik’, bukan sekedar melahirkan, membela dan menyusui yang setiap kucing dan sapi subur pun mampu melakukannya.”

Nah, konsep inilah yang tidak terjadi di Negara Barat. Barat mengalami kehancuran total pada sisi masyarakatnya karena bermula dari kehancuran moral yang menimpa wanitanya. Wanita-wanita Barat hanya dikonsep untuk mendefinisikan arti kepribadian dalam pengertian yang sangat primitif, yakni tidak lain konsep pemenuhan biologis semata. Dosen dan pelacur bisa jadi sama kedudukannya mirip dengan perkataan Sumanto Al Qurtubhy, kader Liberal didikan Kanada yang berujar, “Lho, apa bedanya dosen dengan pelacur? Kalau dosen mencari nafkah dengan kepintarannya, maka pelacur mencari makan dengan tubuhnya.”

Qurthuby hanyalah muqollid (pengikut) dari Sigmund Freud, psikolog kenamaan asal Austria yang membumikan konsep psikoanalisis. Ia mengatakan ketika dorongan seksual sudah menggelora dalam diri pria maupun wanita, maka sudah selayaknya mereka tuntaskan lewat jalan perzinahan, tanpa harus melalui alur pernikahan. Maka itu Freud menuding orang yang senantiasa menjaga akhlaknya rentan terserang gangguan psikologis seperti neurosis.
Kini Freud memang telah mati, namun gagasan itu membekas dalam pribadi orang Barat. Jika anda kerap menyaksikan berita Olahraga, pembawa acara sering memberitakan bahwa salah seorang pemain sepakbola di Inggris telah memiliki anak dari pacarnya, ya pacar dan bukan istri. Karena konsep pernikahan sudah mendebu di benua biru.

Pasca kematian Freud, muncul banyak pengganti yang tidak lebih ekstrem, salah satunya Lawrence Kohlberg. Ia adalah pengusung metode pendidikan Karakter. Metode ini sudah gagal di Barat dan sekarang diimpor ke negeri-negeri muslim, termasuk Indonesia. Wajah pendidikan Karakter terlihat manis. Ia mentitah agar para siswa berperilaku jujur dan memegang komitmen. Namun ia tidak memliki dasar agama, jika seorang remaja memilih untuk hidup tanpa tuhan, tidak menjadi persoalan dalam pendidikan karakter, asal itu dapat dipertanggungjawabkan.

Begitu pula masalah hubungan seks. Bagi Kohlbergian, kita tidak boleh menyalahkan seorang anak perempuan yang hamil di luar nikah, sebab masalah baik atau buruk menjadirelative. Pendidikan Karakter pun tidak boleh menghakiminya, karena anak akan jatuh salah jika ia tidak bisa mempertanggungjawabkan hubungan seksnya. Jadi jika remaja perempuan hamil masih bisa terbebas dari dosa, asal ia siap menjadi ibu. Urusan benar atau salah tergantung tanggung jawab, bukan agama. Maka tak heran, ketika Lawrence Kohlberg lebih memilih bunuh diri dengan menyelam di laut yang dingin pun disambut gembira oleh masyarakat Barat. Alasannya bisa membuat kita sebagai umat muslim tertawa: Kohlberg telah memilih jalan yang memang ia kehendaki.

Kita kembali lagi ke masalah perempuan. Kehidupan Barat yang bebas sejatinya diawali dari kehendak dari kalangan wanita untuk hidup bebas dan meredeka sesukanya. M. Thalib, cendekiawan muslim yang telah menulis puluhan buku tentang pendidikan Islam juga menekankan bagaimana proyek Zionis dibalik wacana pembebasan wanita di Barat. Menurutnya kaum Yahudi memiliki peran kuat dibalik slogan Liberty, Egality dan Fraiternity (kebebasan, persamaan dan persaudaraan) kepada bangsa Perancis.
Hal ini dipropagandakan oleh Zionis dan disebarkan ke penjuru dunia hingga kita bisa merasakan apa yang disebut Hak Asasi Manusia dan Feminisme pada saat ini.

Dalam bukunya, “Pergaulan Bebas, Prostitusi, dan Wanita”, M. Thalib menulis,
“Slogan-slogan inilah yang membuat orang-orang bodoh turut serta mengulang-ulanginya di seluruh penjuru dunia di kemudian hari, tanpa berfikir dan memakai akalnya lagi.”
Mungkin terasa ganjil bagi kita, mengapa Yahudi sebagai bangsa yang pongah begitu takut dengan perempuan? Jawabannya sederhana: membiarkan seorang wanita tumbuh menjadi solihah adalah alamat “kiamat” bagi mereka. Jika seorang ibu yang solehah mengasuh 5 anak muslim di keluarganya untuk tumbuh menjadi generasi mujahid. Kita bisa hitung berapa banyak generasi yang bisa dihasilkan dari 800 juta perempuan muslim saat ini?

Seorang sahabat pernah bertanya kepada Rasul Allah (Rasulullah), “Siapakah manusia di muka Bumi ini yang harus diperlakukan dengan cara yang paling baik ?”. Rasul menjawab, “Ibumu”. “Setelah itu siapa lagi ya Rasul”. Sekali lagi Rasul menjawab, “Ibumu”. Sahabat bertanya kembali, “Kemudian siapa?”. Lagi-lagi Rasul menjawab “Ibumu, baru Ayahmu”. [Shahih, Diriwayatkan oleh Imam Bukhari). [pizaro/islampos]
http://www.islampos.com/mengapa-yang-dihancurkan-yahudi-pertama-kali-adalah-wanita-7923/